Resensi Novel "HUJAN DAN PAWAKA"
IDENTITAS BUKU
Judul Buku: Hujan dan Pawaka
Penulis : Tria Ayu K.
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Genre : Romance
Penerbit : Bhuana Sastra (Imprint dari Penerbit Bhuana Ilmu
Populer) Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 234 halaman
“Hujan dan Pawaka” adalah novel romance remaja yang
menceritakan tentang kisah cinta di masa kuliah. Menekankan pada kerinduan dan
penyangkalan.
ISI BUKU
1. Sinopsis
Semester baru telah datang. Hujan akan memulai kehidupan
barunya di Jogja, di kampus yang awalnya ia pikir sangat apik, ternyata masih
dalam proses pembangunan yang bahkan jalan masuknya belum rata. Hal itu membuat
debu selalu beterbangan setiap kali ada kendaraan yang lewat maupun langkah
kaki yang agak kasar.
Di hari pertama ospek, di jalan masuk kampus, Hujan
tengah berjalan dan debu-debu beterbangan di sekelilingnya. Di kejauhan di
belakang Hujan, Pawaka melihat pemandangan itu dan terdorong untuk memakaikan
topinya pada Hujan agar debu-debu itu tidak mengotori rambut ikal Hujan yang
dianggap lucu oleh Pawaka. Berawal dari pertemuan itu, Hujan dan Pawaka
berkenalan dan menjadi dekat.
Pawaka selalu menyukai Hujan. Segala tingkah dan kepolosan
Hujan dianggapnya lucu. Wajahnya pun manis, membuat Pawaka ingin selalu dekat
dengan Hujan. Di lain sisi, Hujan sangat senang bisa dekat dengan Pawaka.
Baginya, Pawaka layaknya kakak yang selalu menjaga adiknya. Tak pernah
terpikirkan olehnya bahwa dia punya perasaan lain yang lebih mendalam untuk
Pawaka.
Kedekatan mereka membuahkan cinta, tapi tak ada dari mereka
yang mengakuinya. Pawaka yang merasakannya lebih dulu. Tapi dia takut akan
merusak kedekatan mereka berdua jika ia mengungkapkannya, maka ia memilih untuk
memendamnya sendiri. Sedangkan Hujan, kepolosannya membuat ia tak menyadari
perasaan itu. Sampai suatu saat, Gina datang dan merobohkan pertahanan mereka
berdua.
Kedatangan Gina membuat Pawaka frustrasi. Di satu sisi, ia
ingin setia dengan kekasihnya itu, masa lalu yang kembali ketika dia sudah akan
melupakannya. Di sisi lain, ia mencintai Hujan. Tapi dia memilih untuk menjauhi
Hujan dan setia pada Gina. Hujan sakit hati pada sikap Pawaka yang tiba-tiba
menjauh darinya. Maka, dia juga melakukan hal yang sama. Menjauhi Pawaka. Hujan
bahkan memutuskan untuk pindah kuliah ke UGM tanpa diketahui siapa pun selain keluarganya.
Ketika mereka saling menjauh, perasaan mereka berdua tidak
hilang, justru semakin kuat seiring berjalannya waktu. Apalagi rindu selalu
hadir, dibawakan debu-debu yang beterbangan di sekeliling mereka. Rindu terasa
menyenangkan sekaligus menyakitkan bagi mereka.
Untuk menghalau rindu, Pawaka
mendaki gunung demi gunung dan mengumpulkan debu-debunya. Hujan juga mencoba
menghalau rindu, walau selalu gagal. Rindu membuat senyumnya menyiratkan
kebahagiaan, tapi matanya menyiratkan kesedihan.
Singkat cerita, Pawaka memutuskan untuk mencari Hujan. Dia
dan Gina bertemu dengan Hujan di UGM. Di sana, semua perasaannya pada Hujan
diungkapkan. Hujan tak membalasnya langsung, melainkan dengan memberinya surat yang sudah lama dibuatnya.
Di surat itu, semua isi hati Hujan tercurahkan. Hujan juga mencintai Pawaka. Akhirnya, mereka berdua bersatu dan
berjanji untuk bersama-sama kembali melihat pohon trembesi di kampus lamanya, 30
tahun lagi.
2. Kelebihan
Ide ceritanya menarik. Nama-nama tokoh utamanya unik dan meninggalkan kesan yang dalam, sama cukup berpengaruh di ceritanya. Banyak momen yang emosional. Aku bacanya hampir nangis, berarti ceritanya bisa pembaca serap dengan baik. Dari covernya aja udah cess cess gitu deh... Duh... warbyasah syahdu... <3
3. Kelemahan
Sekarang kayaknya lagi banyak novel yang ada quotes-nya gitu kan ya... Nah, novel "Hujan dan Pawaka" ini nggak ada quotes-nya. Kurangnya di situ aja sih... Tapi ide soal penyangkalan dan rindunya itu lho, mangstap!ORGANISASI BUKU
Novel yang berjudul "Hujan dan Pawaka" ini penyajiannya udah bagus banget. Menarik. Ceritanya ngalirrrr banget, bapernya juga ngalir. *jadi sedih...* TT
BAHASA BUKU
Setiap tokoh punya karakter bahasanya sendiri-sendiri. Hujan pake "aku-kamu", Pawaka sama Gina pake "saya-kamu", Daryl pake "gue-lo". Dan dari karakter bahasa yang beda itu, karakter tokoh-tokohnya juga jadi semakin terasa bedanya. Jadi bener-bener kayak hidup gitu loh... Itu poin plus banget...
KESIMPULAN
Novel "Hujan dan Pawaka ini bagus banget. Idenya menarik, ceritanya emosional (buat yang suka cerita romance yang menyentuh gitu, aku ngrekomendasiin ini), ceritanya juga ngalir banget, dikemas dengan apik lah pokoknya.
Dari novel "Hujan dan Pawaka" ini aku bisa ambil pesan. Jujurlah pada perasaan dan diri sendiri. Menyangkal perasaan sendiri hanya akan menyiksa diri sendiri pada akhirnya. Karena selain rasa cinta, masih ada rindu yang selalu siap mengingatkan kita akan perasaan kita yang sejujurnya.
SARAN
Mungkin di novel selanjutnya, dikasih quotes lebih ngena kalik ya... Semangat berkarya, Mbak Tria Ayu! <3

Komentar
Posting Komentar
Please give a polite comment. Thank you....